Impian
Dari ku remaja, aku memiliki impian yang sangat ingin aju wujudkan. Yaitu menjadi seorang ibu sekaligus istri dan memiliki suami yang loyal dan penuh kasih sayang kepadaku. Namun masalah pertama dan paling intinya adalah orang tuaku. Aku tak bermaksud. Mereka selalu memperlakukanku seolah olah aku hanyalah benda yang dapat dimanfaatkan untuk menopang kehidupan merekamereka dan kadang memberikan komentar negatif akan diriku. Apalagi sekarang maraknya trend sosial media yang "marriage is scary, what if he" Juga postingan postingan orang selingkuh. Membuatku semakin ragu akan impianku saat remaja itu.
Namun semuanya berubah ketika suatu hari, orang tuaku tiba tiba mengumumkan perjodohanku dengan seorang laki laki. Jujur aku shock, namun mau bagaimana lagi. Saat akhirnya kami dipertemukan, entah kenapa aku merasakan sedikit rasa familiar dari pria itu. Hendak saja ku menelitinya lebih dalam, namun sekali ia melirik kearahku, tatapannya tajam dan langsung membuatku merinding. Tapi aku merasa familiar..
Setelah pernikahan kami itu, kami bersikap seperti biasanya layaknya seorang pasutri. Namun bedanya kami cukup canggung satu sama lain. Toh kami juga tak mengenal satu sama lain. Iyakan? Aku tak ingin memperdulikannya, lebih baik aku bekerja saja. Dan yap, hari ini aku lembur lagi. Semuanya sudah kecuali diriku. Setengah jam berlalu, akhirnya pekerjaan ku selesai. Merapikan dan memasukkan barangku ke dalam tasku, aku pun pergi keluar dari kantor. Saat ku berada diluar, angin dingin yang malam berhembus lembut kekulitku yang mmebuatku merinding. Melihat sesuatu bergerak di depan mataku, aku terkejut. Ternyata ada sosok Gevano yang bersender di mobilnya.
Ku cek ponselku, ternyata ada 2 telepon tak terjawab dan 8 pesan terkirim. Dan itu semua dari Gevano setengah jam yang lalu. Ia langsung merasa tak enak. Dengan wajah yang khawatir dan rasa penuh menyesal, ia berbicara sambil berjalan mendekat kearahnya;
"Sungguh, aku benar minta maaf karena Aku tak menjawab telepon ataupun pesanmu. Nada deringku kumatikan karena aku ingin fokus.." Anneliese menjelaskan.
Ada keheningan sementara diantara mereka berdua yang membuat Anneliese semakin menjadi tak enak.
"Maaf, aku berjanji tak akan mengulanginya lagi. Sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau aku mentraktirmu? Atau apapun itu?" Hening lagi. Hanya ada tatapan tajam dari Gevano yang membuatku merinding.
"Sudahlah. Tak usah dipikirkan. Ini sudah larut, ayo naik." Ucapnya. Berbalik badan hanya untuk berjalan ke kursi penumpang dan membukannya untuknya. Dengan anggukan Anneliese pun mengikutinya dan duduk di kursi itu.
Walau ada sedikit masalah, namun setidaknya masalahnya sudah kita selesaikan..
9/10 seru ceritanya
BalasHapus